Dahulu ada seorang raja kafir, ia mempunyai seorang wazir (menteri) yang saleh. Sang wazir selalu mencari kesempatan untuk menasehati raja.
Pada suatu malam raja mengajak sang wazirnya berkeliling melihat keadaan rakyatnya, lalu keduanya berkeliling dengan naik kuda. Lalu keduanya tiba di sebuah tempat yang menyerupai bukit kecil. Di tempat itu ada cahaya api, mereka pun lalu mendatanginya, ternyata di situ ada sebuah rumah yang di dalamnya terdengar suara nyanyian sambil diiringi alat musik. Raja dan wazir juga melihat di dalam rumah itu ada seorang lelaki yang berpakaian lusuh sambil bersandar pada tumpukan kotoran ternak, sedang di hadapannya ada kendi berisi minuman. Dan di hadapannya pula ada istrinya yang melayaninya layaknya seseorang yang melayani raja, dan sebaliknya ia pun memberi penghormatan kepada istrinya layaknya seseorang memberi penghormatan kepada seorang ratu. Berkatalah sang raja, “Mungkin mereka melakukan hal itu tiap malam.” Saat itulah sang wazir berkesempatan untuk menasehatinya, lalu sang wazir berkata pada raja,“Tuan raja! Saya takut anda akan tertipu seperti mereka berdua.” Sang raja bertanya, “Bagaimana bias begitu?”
Wazir menjawab, “Tuan raja! Sesungguhnya kerajaanmu dalam pandangan orang yang mengetahui kerajaan Malakut (kerajaan Allah) bagaikan sampah ini dalam pandangan tuan, demikian juga sofa-sofa dan istana-istana tuan. Sesungguhnya jasad dan pakaian tuan bagi orang yang memahami arti kebersihan itu laksana kedua orang itu dalam pandangan tuan.” Raja bertanya, “Siapakah orang yang memiliki sifat yang engkau katakan tadi?” Wazir menjawab “Mereka adalah orang memiliki keyakinan bahwa ada tempat yang di situ hanya ada kebahagiaan tidak ada kesusahan, hanya ada cahaya tidak ada kegelapan, hanya ada ketenangan tidak ada ketakutan.” Berkata sang raja, “Apa yang menghalangimu untuk mengatakan hal ini sebelumnya?” “Karena takut akan kewibwaan tuanku,” jawab wazir. Raja berkata, “Kalau memang apa yang kamu katakan itu benar, maka sudah seharusnya siang dan malamku saya gunakan untuk mendapatkan hal itu.” Wazir berkata, “Apakah tuan memerintahkan saya untuk mencarikannya?” “Ya,” jawab raja. Setelah beberapa hari datanglah sang wazir dan berkata, “Tuan, saya telah menemukan apa yang tuan cari pada bait-bait yang tertera di pusara ayah paduka.” Raja bertanya, “Apakah bait-bait itu?” Wazir pun membacakan bait-bait tersebut:
Wazir menjawab, “Tuan raja! Sesungguhnya kerajaanmu dalam pandangan orang yang mengetahui kerajaan Malakut (kerajaan Allah) bagaikan sampah ini dalam pandangan tuan, demikian juga sofa-sofa dan istana-istana tuan. Sesungguhnya jasad dan pakaian tuan bagi orang yang memahami arti kebersihan itu laksana kedua orang itu dalam pandangan tuan.” Raja bertanya, “Siapakah orang yang memiliki sifat yang engkau katakan tadi?” Wazir menjawab “Mereka adalah orang memiliki keyakinan bahwa ada tempat yang di situ hanya ada kebahagiaan tidak ada kesusahan, hanya ada cahaya tidak ada kegelapan, hanya ada ketenangan tidak ada ketakutan.” Berkata sang raja, “Apa yang menghalangimu untuk mengatakan hal ini sebelumnya?” “Karena takut akan kewibwaan tuanku,” jawab wazir. Raja berkata, “Kalau memang apa yang kamu katakan itu benar, maka sudah seharusnya siang dan malamku saya gunakan untuk mendapatkan hal itu.” Wazir berkata, “Apakah tuan memerintahkan saya untuk mencarikannya?” “Ya,” jawab raja. Setelah beberapa hari datanglah sang wazir dan berkata, “Tuan, saya telah menemukan apa yang tuan cari pada bait-bait yang tertera di pusara ayah paduka.” Raja bertanya, “Apakah bait-bait itu?” Wazir pun membacakan bait-bait tersebut:
Adakah kamu buta tentang dunia
padahal kamu melihat
Dan kamu tak tahu apa yang ada di dalamnya
padahal kamu telah diberitahu
Sejak pagi kamu telah memulai menumpuknya
seolah-olah kamu akan kekal selamanya
padahal esok lusa kamu akan pergi
meninggalkan apa-apa yang telah kamu kumpulkan itu
Kamu buat bangunan yang tinggi nan megah
padahal rumah masa depanmu adalah kuburan yang sempit
Maka berbuatlah semadyanya apa yang ingin kau perbuat
karena rumah orang-orang mati adalah kuburan
Ketika sang raja mendengar bait-bait sya’ir tersebut, maka iapun segera bertaubat kepada Allah, dan masuk Islam dengan sungguh-sungguh. Dan itulah yang menyebabkan ia selamat dari api neraka.







0 komentar:
Posting Komentar
jangan lupa tinggalkan komen